UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN DI KELAS


UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU

DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN DI KELAS

Oleh :

Toto Dianto, S.Pd. MA

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

            Dalam rangka upaya meningkatkan mutu pendidikan yang kian terus dilakukan, terus mendapat sorotan dan perhatian banyak pihak, sehingga menjadi sebuah pertanyaan besar yang belum terjawab secara jelas, karena kenyataan di lapangan tidak hanya menjadi sebuah obsesi guru yang seolah-olah merasa selalu dijadikan bahan percobaan para pakar pendidikan, paling tidak setiap para pakar pendidikan mencetuskan gagasannya selalu berdampak pada guru di lapangan sebagai ujung tombak dalam pencapai keberhasilan pendidikan.

Kemerosotan pendidikan biasanya menjadi topik pembicaraan awal dalam setiap upaya meningkatkan mutu pendidikan, dengan berbagai contoh kemajuan pendidikan di negara lain dan kelemahan pendidikan di negara kita selalu dikemukakan sebagai apresiasi dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia khususnya, entah apakah itu sebagai motivasi bagi guru atau sebagai upaya mendeskreditkan guru yang tidak banyak diketahui atau tidak mau tahu sejumlah kesulitan yang dihadapi guru di lapangan pada saat melaksanakan tugasnya.

Upaya meningkatkan mutu pendidikan, pemerintah selalu terus berupaya kongkret, salah satu diantaranya peningkatan mutu guru melalui program penyetaraan D II untuk semua guru dengan difasilitasi penuh oleh pemerintah, sehingga hampir 100 % guru di Indonesia sudah memiliki Ijazah D II bahkan dengan susah payah  mereka terus mengikuti program pendidikan S1 bahkan sampai ke program S2 sebagai upaya meniti jenjang karier mereka di dunia pendidikan. Selain itu program BERMUTU pun terus dikembangkan di setiap daerah khususnya di Jawa Barat, dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan

Jika melihat indek prestasi hasil penelitian yang dilakukan oleh Human Depelopmen Indek, bahwa Indonesia menduduki urutan ke 102 dari 106 negara yang disurvey atau berada di bawah Vietnam ( Depdikbud, 2001 ). Hal ini menjadi tanda tanya besar bagi kita semua dan membuat tercengang para pakar pendidikan di kita, karena berdasarkan sejarah bahwa Vietnam adalah negara yang pernah meminta bantuan tenaga pendidik dari negara kita, mengapa hal ini bisa terjadi ? para pakar pendidikan di Indonesia melalui lembaganya, baik formal maupun non formal terus berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan secara universal.

Keseluruhan proses pendidikan di semua jenis dan jenjang pendidikan menjadi pengawasan intensif dengan berbagai model yang kita lakukan, seperti kita kenal dengan penerapan  metoda ; SAS, CBSA, Calistung, Portofolio sampai ke model pembelajaran MBS dengan pola PAKEM nya dan masih banyak model lain dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, dengan upaya ini sebenarnya tidak harus terjadi kemerosotan mutu pendidikan, tetapi harus sebaliknya pendidikan meningkat dengan pesat.

B.  Permasalahan

            Pendidikan dasar khususnya jenjang SMP harus ditempuh oleh para siswa  usia sekolah untuk meningkatkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia indonesia dalam upaya mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Pendidikan dasar bisa dikatakan berhasil apabila kualitasnya menunjukkan yang maksimal, permasalahan yang dihadapi banyak guru saat ini adalah masih dirasakan kurang diperhatikannya perencanaan pelaksanaan pembelajaran, sehingga kurang terciptanya kultur pembelajaran yang kondusip.

C. Pemecahan Masalah

Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan di atas adalah diberikannya pencerahan tentang uraian tugas yang harus dihadapi guru dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan proses pembelajaran dengan pola pembelajaran yang efektif dalam kultur yang kondusif.

Perbaikan sistem pengajaran melalui persiapan pembelajaran yang operasional harus dilakukan oleh guru dalam rangka meningkatkan kegiatan proses pembelajaran, karena guru yang langsung di lapangan mengetahui persis kekurangan dan kelemahan di dalam tugasnya setelah melihat hasil yang dicapai anak didik melalui proses pembelajaran.

Sekalipun Pemerintah terus melakukan upaya melalui berbagai cara pembinaan terhadap guru guna meningkatkan mutu pendidikan seperti dalam bentuk ; penataran, seminar, diskusi, simulasi dan lain sebagainya diberikan kepada guru untuk dapat meningkatkan mutu profesinya. Hal ini tercantum dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 52 yang berbunyi “pemerintah melakukan pengawasan atas penyelenggaraan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah ataupun masyarakat dalam rangka pembinaan perkembangan persatuan pendidikan yang bersangkutan”.

 

BAB II

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BELAJAR SISWA

I. Kompetensi Guru

            Untuk menghilangkan kesan di masyarakat tentang kurangnya wibawa guru dan untuk mendapat kepercayaan dari masyarakat terhadap kemampuan  guru dalam melaksanakan tugasnya, maka guru harus dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat dengan cara memberikan arah yang profesional dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sebagai pendidik, pengajar dan pelatih, sehingga terlihat kemampuan profesinya dan kemampuan pribadinya.

Penguasaan kompetensi guru merupakan perilaku yang rasional dan mutlak dilaksanakan guru untuk mencapai tujuan yang diharapkan, maka secara umum seorang guru harus memiliki kemampuan atau kompetensi, seperti yang tertuang dalam PP 19 tahun 2005 Ps 28 : 3 bahwa kompetensi guru yang harus dikuasai adalah sebagai berikut :

a.  Kompetensi Paedagogik

1  Menguasai karakteristik peserta didik dari asfek fisik, moral, spiritual,sosial, kultural, emosional dan intelektual.

2  Menguasi teori belajar dan prinsip pembelajaran yang mendidik.

3  Mengembangkan kurikulum yang terkaitdengan mata peljaran yang diampu.

4  Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik

5 Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran.

6  Memfsilitasi pengembangan potnsi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.

7  Berkomunikasi secara efektif, empirik, dan santun dengan peserta didik

8  Menyelenggarakan  penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.

9   Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran

10 Melakukan tindakan replektif untuk kepentingan pembelajaran.

b.   Kompetensi Kepribadian

1 Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan       nasional.

2  Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat

3  Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa.

4  Menunjukkan etos kerja ,tanggungjawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru dan rasa percaya diri.

5   Menjunjung tinggi kode etik profesi guru

c.    Kompetensi Sosial.

1 Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, serta latar belakang keluarga dan status sosial ekonomi.

2.  Berkomunikasi secara epektif, empirik dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua dan masyarakat.

3  Beradaptasi di tempat tugas di seluruh wilayah republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya

4  Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain

d.    Kompetensi Profesional.

1 Menguasai materi, struktur, konsep dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran  yang diampu

2  Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran mata pelajaran yang diampu

3   Mengembangkan mata pelajaran yang diampu secara kreatif

4   Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan replektif.

II.   Langkah-langkah Efektif dalam Proses Pembelajaran

Dalam kegiatan pembelajaran perlu ada langkah-langkah kongkrit, agar tujuan dan sasaran tercapai seoptimal mungkin. Langkah-langkah itu diantaranya adalah :

1. Perencanaan

Perencanaan pembelajaran disusun sebelum terjdi interaksi antara pendidik dan peserta didik, yang dimulai setelah manganalisis tujuan dan bahan pembelajaran, serta metoda dan media pembelajaran yang akahn digunakan agar sesuai dengan kebutuhan yang akan  diinformasikan melalui proses pembelajaran.

 

 

Seperti diungkapkan M,Sobry Sutikno ( 2005 ; 44-45 ) bahwa ; kegiatan penting pada tahapan perencanaan pembelajaran adalah :

a.  mengecek atau membuat silabus

b.  menentukan tujuan instruksional umum

c.  menentuka tujuan instruksional khusus

d. menentuka cara penilaian atau evalusi yang akan dipakai untuk mengetahui kemampuan belajar peserta didik

e.  menentukan waktu pelaksanaan

f.   menentukan buku wajib dan pilihan

g.  membuat ringkasan informasi atau hand aut.

 

Disamping mempersiapkan hal-hal yang bersifat teknis, guru pun perlu juga mempersiapkan kompetensi akademis, maksudnya bahwa guru juga harus mau belajar sehingga mampu dan menguasai apa yang akan diajarkan. Begitupun jika guru khawatir lupa atau khawatir tidak sistematis, maka guru dapat membuat catatan kecil atau ringkasan bahan ajar yang akan disampaikan pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung.

2.  Pengorganisasian Kelas

Setelah guru merencanakan dengan seperangkat kesiapannya dalam proses pembelajaran, guru juga hendaknya melakukan pengorganisasian siswa di kelas sesuai dnngan situasi dan kondisi dimana siswa itu akan mengikuti kegiatan.

Kegiatan ini tentu sudah dirancang sedemikian rupa oleh guru guna memudahkan siswa mencerna apa yang disampaikan guru seperti tercantum dalam tujuan pembelajaran yang sudah disiapkan guru sebelumnya.

Dalam kegiatan ini guru harus dapat menciptakan situasi yang kondusip, sehingga proses pembelajaran berjalan sesuai rencana yaitu aktif, kreatif dan menyenangkan.

Pengorganisasian siswa di kelas dapat dilakukan dengan cara klasikal, berkelompok, berpasangan atau peserta didik memilih diantara teman sesuai dengan pilihannya. Pengorganisasian ini semata-mata untuk mengkondusipkan suasana kelas dalam rangka mencapai keberhasilan pendidik dan peserta didik dalam satu paket pembelajaran yang sudah direncanakan, ringkasnya pengorganisasian ini bertujuan untuk melatih bekerjasama, menanamkan jiwa kepemimpinan dan saling membantu serta terjadinya pertukaran pengetahuan antar peserta didik.

Dari kegiatan ini guru akan dapat menghasilkan catatan dari pengamatannya bahwa kreatifits peserta didik dalam satu paket pembelajaran dari mulai pengorganisasian kelas, berkelompok sampai ke individu dapat dimonitor sehingga diketahui siswa secara peroranngan atau kelompok mana yang dapat bekerjasama untuk menghasilkan sesuatu dengan baik.

3.  Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran

Untuk memulai proses ini guru hendaknya memberikan motivasi terlebih dahulu kepada siswa, untuk tetap bisa melaksanakan tugas yang akan dikerjakan sesuai dengan petunjuk guru atau di dalam lembar kerja siswa, dan siswa pasti akan memulai pekerjaan dengan berbagai aktifitas yang akan dilakukannya, di sini guru hendaknya berfunfgsi sebagai fasilitator ( memonitor dan mengawasi serta memfasilitasi pembelajaran ) untuk membantu para peserta didik apabila ada peserta didik atau kelompok yang perlu penjelasan, namun jangan lupa guru juga harus berpandangan menyeluruh pada saat memperhatikan kerja siwa agar para siswa merasa dirinya bukan hanya diawasi tapi juga merasa dibimbing dan diperhatikan, sehingga tidak akan menyebabkan para peseta didik kaku dalam berbuat dan bertindak pada saat bekerja.

Seorang guru yang baik harus dapat membangkitkan semangat peserta didiknya sehingga terhindar dari rasa jenuh, dan sebaliknya akan timbul gairah untuk belajar. Guru hendaknya menciptakan suasana manis di kelas sehingga para siswa akan merasa senang tapi mempunyai tanggungjawab yang besar apalagi peserta didik yang ditunjuk sebagai ketua kelompok misalnya, akan memantau bagaimana cara kerja teman-temannya atau kondisi teman-temannya.

Di samping itu juga guru harus kreatif untuk dapat mendorong belajar peserta didik, misalnya dengan menggunakan media pembelajaran sebagai salah satu pendukung suksesnya pembelajaran, media ini bisa dibuat oleh guru sekalipun sederhana.

” Dalam aktifitas pembelajaran, media dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat memberikan informasi dan pengetahuan dalam interaksi yang berlangsung antara pendidik dan peserta didik ” ( Heinich, dkk 1996 )

Beberapa jenis media pembelajaran yang digambarkan M. Sobry Sutikno ( 2005 : 5 ) adalah ;

a. Media grafis, seperti gambar, fhoto,grafik,bagan atau diagram,poster dan kartun, media ini juga sering disebut media dua dimensi yaitu media yang mempunyai ukuran panjang dan lebr.

b.  Media tiga diomensi, yaitu dalam bentuk model seperti model padat, model penampang, model susun, model kerja, mick up, diorama.

c.   Media proyeksi, seperti slide, film, strips, penggunaan OHP, in focus, dll.

d.   Penggunaan lingkungan sebagai media pembelajaran.

 

Kemudian perlu juga ditegaskan kepada para peserta didik  bahwa belajar itu tidak mesti terjadi di dalam ruang kelas semata tetapi dapat juga dilakukan di luar kelas atau lingkungan sekolah, karena sumber belajar itu begitu luas, tidak hanya dibatasi oleh empat dinding tembok saja, bahkan sesekali para siswa harus dibawa ke tempat-tempat yang dianggap ada manfaat pendidikannya, sehingga secara langsung obyek itu dapat diamati, di sini pun daya imajinasi peserta didik  dan apresiasi sumber belajar sangat membantu para peserta didik, jelas ini akan menambah pengalaman belajar peserta didik  bahkan bukan hanya itu saja, tetapi akan dapat pula menambah pemahaman terhadap materi yang sedang ia pelajari atau dibahas.

4.      Evaluasi Hasil Proses Pembelajaran

Penilaian dari hasil proses pendidikan sangat diperlukan untuk melihat keberhasilan suatu satuan pendidikan, apalagi pada saat memperingati hari pendidikan nasional tanggal 2 Mei 2002 ada satu komitmen yang dirancang untuk terus membina dan mengembangkan pendidikan yang intensif.  gerakan ini dipelopori oleh Prof. Dr. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc. dengan “ Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan” diharapkan akan mampu mengedepankan pendidikan pemberdayaan potensi, kapasitas dan sumber daya yang ada.

Evaluasi ini akan memberikan arti yang berarti bagi pendidik khususnya sebagai umpan balik sehingga dapat mengelola pembelajaran dengan lebih baik, makin hari makin baik dan efektif kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan. Fungsi evaluasi ini tidak hanya bagi pendidik, tetapi bagi orangtua juga akan memberikan arti sangat penting pula, karena akan didapat gambaran seberapa jauh keberhasilan anaknya dalam pemahaman terhadap pelajaran di sekolah dan ini akan dijadikan motivasi untuk dapat belajar yang lebih baik bagi anaknya.

Kita harus menyadari bahwa pendidikan itu bukan hanya tanggungjawab guru, namun orangtua juga di rumah punya peran yang begitu penting dan besar, karena pendidikan adalah merupakan tanggungjawab bersama antara pemerintah, orangtua dan masyarakat.

Evaluasi yang dimaksud di sini adalah evaluasi terhadap hasil dari proses pembelajaran yang dilakukan guru dan siswa apakah ada perubahan sikap, perilaku serta penampilan yang dilakukan para siswa sebagai objek kegiatan pembelajaran, dari kegiatan evaluasi ini guru juga hendaknya membuat rumusan ;

a.       Apakah ada faktor-faktor pendukung atau penghambat selama kegiatan berlangsung.

b.      Apakah ada peluang yang dapat dikembangkan untuk memungkinkan diadakannya pembangunan.

c.       Apakah ada pula faktor penghambat sebagai tantangan untuk dijadikan bahan kajian perbaikan berikutnya.

d.      Motivasi perlu diadakan sebagai titik tolak untuk meningkatkan apa yang menjadi kemunduran atau ketertinggalan selama ini.

Popham & Boker, ( 2001 : 62 ) menyatakan bahwa : jika seorang pendidik merasa bertanggungjawab atas perumpamaan pendidikannya, ia harus mengevaluasi pendidikannya itu agar mengetahui perubahan apa yang seharusnya dilakukan, dan seorang pendidik perlu untuk mengevaluasi penyempurnaan pendidikannya dan peserta didiknya.

5.      Progam Perbaikan dan Pengayaan

Hasil belajar siswa adalah bentuk keberhasilan dalam proses pembelajaran setelah berlangsung dalam satu proses tatap muka yang diakhiri dengan evaluasi. Tentu dalam evaluasi ini guru juga akan penuh kehati-hatian karena latarbelakang para siswa pun berbeda. Secara sederhana hasil belajar yang mudah dilihat secara keseluruhan adalah adanya siswa yang kurang atau lambat dan siswa yang lebih cepat dalam belajarnya.

Progam perbaikan dan pengayaan ini dilaksanakan setelah mengetahui kelemahan dan kekurangn peserta didik baik dari dalam maupun dari luar. Karena itu menelusuri kelemahan peserta didik harus dilakukan secar cermat, tidak tertutup kemungkinan bagi para peserta didik yang mengalami kesulitan belajar perlu mendapat penanganan dan perhatian secara khusus pula dari guru.

Khusus untuk peserta didik di sekolah dasar biasanya banyak mengalami kesulitan belajar pada membaca, menulis dan berhitung, ini semua memerlukan kesabaran guru dalam membimbingnya, namun kesulitan tersebut biasanya hanya berlangsung sesaat, namun jika tidak ditangani dengan kesabaran maka akan mengganggu proses pembelajran selanjutnya dan bisa pula menjadi kesulitan belajar secara permanen.

6.      Lingkungan sebagai sumber belajar

Seperti dikatakan dimuka bahwa pendidikan itu bukan hanya tanggungjawab sekolah saja namun orangtua dan masyarakat pun ikut bertanggungjawab di dalamnya, karena itu keberhasilan pendidikan secara keseluruhan adalah keberhasilan yang sesuai dengan harapan semua pihak.

Teringat kepada petikan wawancara salah satu madia masa dengan artis terkenal “Astri Ivo” tentang bagaimana peran orangtua dalam mendidik anaknya, Astri menyarankan dengan kalimat “ kalau kita punya rizki yang cukup sehingga kita sebagai ibu tidak harus turut bekerja, sebiknya kita konsentrasikan waktu kita bagi anak-anak. ” Astri Ivo punya pandangan bahwa mendidik anak lebih utama daripada bekerja sehingga waktu benar-benar dipakai untuk mendidik anak, hal ini penting karena orangtua apalagi seorang Ibu akan sangat berpengaruh besar terhadap masa depan anaknya kelak. Astri Ivo juga mengatakan lebih jauh bahwa yang patut diingat adalah “ bahwa anak itu adalah amanah dan kita sebagai orangtua harus mendidik mereka dengan sebaik-baiknya. ”

Banyak bermunculan sekolah-sekolah yang dapat menampung anak didik untuk dapat berkreasi dan mampu merubah sikap anak, seperti Full Day Scholl ( FDS ) karena secara psikologi anak-anak merasa senang belajar dan bermain bersama teman-temannya dari pagi hingga sore hari.

Ada nilai tambah dengan FDS ini, bukan hanya tujuan orangtua menitipkan anak karena dirinya merasa sibuk dengan pekerjaannya, namun anak di situ akan belajar bermasyarakat dan bergaul mulai dari pagi hingga sore hari, banyak keuntungan yang didapat anak, namun Full Day Scholl bukan hanya satu-satunya yang dapat dijadikan harapan orangtua dalam keberhasilan pendidikan anaknya, tetapi harus ditopang dengan peran serta orangtua itu sendiri.

Karena itu semangat belajar siswa akan tumbuh dengan sendirinya jika semua unsur pendukung seperti ; orangtua, guru, alat, metoda, sumber dan lingkungan benar-benar tersedia.

 

BAB III

P E N U T U P

A.    Simpulan

Dari uraian singkat ini, penulis simpulkan bahwa tanggungjawab guru bukan hanya terbatas oleh lingkungan sekolah, yang di dalamnya harus mempersiapkan kegiatan proses pembelajaran dengan langkah-langkah kongrit agar ketercapaian kurikulum melalui tujuan pembelajaran berhasil sesuai harapan, seperti perencanaan dalam pembelajaran, kemudian di masyarakat pun guru harus mampu tampil sebagai sosok yang membuat simpatik mereka karena kepiawaiannya.

Kemudian guru harus mampu menguasai kompetensi guru seperti yang tertuang dalam PP 19 Tahun 2005, dan langkah-langkah atau proses pembelajaran dapat dikuasai sesuai rencana, sehingga tujuan pembelajaran secara universal berhasil dengan baik.

B.     Saran

Untuk mencapai tujun pembelajaran, maka dalam pelaksanaannya guru harus dapat menggunakan metoda dan memanfaatkan media pembelajaran sesuai kebutuhan. Fasilitas pembelajaran perlu dipenuhi pemerintah dalam akselerasi pendidikan menuju pendidikan bermutu.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Majid ( 2006 ), perencanaan Pembelajaran, RoSMPakarya Bandung.

Oemar Hamalik ( 2003 ), Proses Belajar Mengajar, Bumi Aksara

Sobry Sutikno ( ( 2005 ), Pembelajaran efektif, NTP PRESS Mataram

Category: Karya Tulis